“Ada ketakutan di mana vaksin COVID-19 mungkin tidak mencukupi sehingga tidak bisa diberikan secara merata. Padahal, saat ini vaksin dibutuhkan untuk meningkatkan kekebalan tubuh sehingga menurunkan risiko penularan virus. Apakah hal ini kemudian bisa dijadikan alasan untuk menggabungkan dua jenis vaksin?”

PROPERTI CIREBON– Vaksin COVID-19 terus diberikan sebagai upaya menurunkan risiko penularan virus corona, yaitu virus penyebab COVID-19. Seperti diketahui, sejak 2019 lalu, virus ini diketahui bisa menginfeksi manusia dan menyebabkan penyakit. Tidak sedikit orang yang menjadi korban, sampai akhirnya virus corona dinyatakan sebagai pandemi. Hingga kini penyebaran dan mutasi virus pun masih terus terjadi di hampir seluruh bagian dunia.

Pemberian vaksin menjadi salah satu cara untuk mencegah tubuh terinfeksi. Cara kerjanya adalah dengan merangsang tubuh membentuk antibodi yang berperan dalam melawan virus corona yang masuk ke dalam tubuh. Vaksin Corona diberikan sebanyak dua dosis dengan jeda waktu tertentu, tergantung pada jenis dan merk vaksin yang digunakan. Di Indonesia sendiri, ada beberapa jenis vaksin yang disetujui penggunaannya, yaitu Sinovac Bio Farma, AstraZeneca, Sinopharm, dan Moderna.

Dijual Tanah & Bangunan Strategis Dekat dengan Rumah Sakit Jantung Hasna Medika & RSIA Khalisa

Beda Vaksin COVID-19 Dosis Pertama dan Kedua 

Pemberian vaksin diberikan dalam dua dosis atau dua kali proses suntikan. Pertanyaannya, apakah boleh menggabungkan jenis vaksin yang berbeda? Apakah aman untuk mendapat dosis pertama dan dosis kedua yang berbeda?

Sejauh ini, perlindungan dari vaksin disebut akan lebih efektif jika didapat dari satu merk atau jenis vaksin saja. Contohnya, jika vaksin dosis pertama yang diberikan adalah AstraZeneca, maka suntikan kedua sebaiknya menggunakan merk yang sama. Organisasi kesehatan dunia alias WHO juga merekomendasikan hal yang sama.

Menggabungkan dua jenis vaksin disebut belum perlu untuk dilakukan. Selain itu, hal ini dikhawatirkan bisa mengganggu efektivitas dari masing-masing bahan baku yang digunakan. Bisa saja, vaksin pertama memiliki cara kerja berbeda dengan suntikan kedua, sehingga membuat perlindungan menjadi setengah-setengah dari kedua jenis vaksin yang diberikan. 

Baca Juga :

Perlukah Immune Booster untuk Daya Tahan Tubuh ?

 Ada Penelitian 

Sebuah penelitian dilakukan untuk mencari tahu, apakah menggabungkan dua jenis vaksin COVID-19 bisa dilakukan. Tujuannya, mencari tahu kemungkinan peningkatan kekebalan tubuh dan kemampuan melindungi dari serangan virus Corona. Sebuah penelitian dilakukan oleh United Kingdom’s National Health Service (NHS), dan disebut dengan Com-COV study.

Dalam study tersebut, peneliti mengamati kemungkinan manfaat maupun efek samping dari menggabungkan dua jenis vaksin corona. Dalam penelitian ini, vaksin yang digunakan adalah AstraZeneca dan Pfizer-BioNTech. Hasil yang didapatkan adalah mencampur atau mendapatkan dosis pertama dan dosis kedua yang berbeda sejauh ini bukanlah hal yang direkomendasikan.

Efek samping yang dimunculkan dari mendapat dosis pertama dan kedua yang berbeda disebut lebih terasa. Selain itu, penelitian yang dilakukan tidak menghasilkan data yang menyebut bahwa penggabungan ini bisa meningkatkan kekebalan tubuh terhadap virus. Masih dibutuhkan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui kemungkinan ke depannya penggunaan dua jenis vaksin bisa dilakukan.

Cari Properti & Hunian di Wilayah JABODETABEK ? >> KLIK DISINI <<

Pertanyaan lain yang sering muncul adalah jenis vaksin mana yang lebih baik di antara semua vaksin yang ada. Memang, semua merk memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Namun, mendapatkan suntikan vaksin, jenis apapun, disebut lebih baik daripada tidak sama sekali. Perlindungan yang didapat bisa membantu menurunkan risiko infeksi virus yang bisa menimbulkan gejala penyakit.

Di tengah kondisi yang serba tidak pasti seperti sekarang, menjaga kesehatan dan memastikan perlindungan penuh adalah hal yang penting. Jika memiliki gejala penyakit parah dan harus mendapat pertolongan medis, segera pergi ke rumah sakit.

Sumber : Halodoc.com

0 Komentar