Belakangan ini kita sering mendengar istilah Business Model, terlebih pada saat pandemik Covid-19 ini. Perusahaan harus menyesuaikan business modelnya dengan perubahan kondisi saat ini, bahkan tidak sedikit perusahaan yang terpaksa mengubah business modelnya. Contoh, bagaimana restauran mengubah bisnisnya dari jualan offline menjadi pesanan online.

Business Model secara sederhana bisa diartikan sebagai bagaimana perusahaan menjalankan bisnisnya. Secara lebih spesifik, Business Model diartikan sebagai kemampuan perusahaan mencapture, deliver dan menciptakan value kepada konsumennya. Business Model akan menciptakan revenue stream yang akan mendatangkan pendapatan dan profit kepada perusahaan. Dengan demikian menjadi jelas, bahwa sentral poin dari Business Model adalah konsumen yang memiliki perilaku yang harus dipenuhi kebutuhannya.

Beberapa contoh perusahaan yang berhasil mengembangkan dan mengubah Business Model dan menghasilkan kinerja yang luar biasa,
antara lain mesin fotocopy Canon, dari menjual mesin FC beralih kepada sewa pakai mesin FC. Mesin kopi Nespresso, dari menjual kopi menjadi menjual mesin pembuat kopi dan isi ulang kopi kemasan khusus Nespresso.

Namun tidak sedikit perusahaan yang terlambat mengubah business modelnya mengalami dampak yang negatif dan kemudian bangrut. Contoh perusahaan IBM, Kodak, Nokia dan Blackberry. Karena itu, sangat penting bagi perusahaan untuk selalu meninjau ulang Business Model yang dijalani saat ini apakah masih relevan atau tidak dengan perkembangan zaman.

Guna menghadapi perubahan lingkungan usaha yang semakin dinamis, perusahaan harus sering meninjau dan melakukan penguatan business modelnya. Hal ini disebut sebagai inovasi business model. Untuk melakukan inovasi business model, perusahaan dapat menggunakan kerangka Who, What, How and Why.

Segmen konsumen mana yang akan dijadikan sebagai target konsumen? Apa kegiatan mereka? Apa saja “poin poin” mereka dalam kaitan produk yang akan dikembangkan? Apa yang kan menjadi “gain” bagi mereka? Perusahaan harus memahami dengan baik segmen konsumen yang akan dibidik.

Value proposition apa yang ditawarkan kepada target konsumen di atas? Value proposition dibuat dengan memperhatikan kebutuhan konsumen. Bagaimana cara membangun value proposition dan menyampaikan kepada
target konsumen? Sumber daya apa yang diperlukan untuk membangun value proposition tersebut? Merancang sumber revenue stream yang bisa mendatangkan pertumbuhan dan keuntungan kepada perusahaan.

Inovasi Business Model Di Industri Real Estate

Industri real estate di Indonesia mengalami beberapa perubahan Business Model sejak berkembangnya pada tahun 1970 hingga sekarang. Berikut apa yang bisa dijabarkan.

Pada masa awal berkembangnya real estate, Business Model adalah transaksi jual beli, dimana konsumen membeli rumah dan kavling serta membayar harga sesuai kesepakatan. Dengan Business Model ini, developer harus memiliki capital yang besar, dan resiko keuangan yang cukup tinggi.

Pada era tahun 90-an, berkembang Business Model pra selling, yang dipelopori oleh group Lippo, dimana developer menjual “gambar” dan konsumen membayar kepada developer secara langsung atau melalui KPR bank. Pada era ini, developer menguasai tanah dalam volume yang luas sekali. Dengan model business ini, developer mendapatkan dana dari
konsumen untuk membiayai proyek yang akan dibangun. Sehingga biaya pengembangan real estate menjadi lebih efisien.

Pada era tahun 2000- an, Dengan semakin mahalnya tanah di kota besar, berkembang Business Model superblock yaitu properti dengan menggunakan konsep mix-used, dimana terjadi mix revenuestream antara one time transaction, dan sewa serta penerimaan maintenance fee dalam pengelolaan properti.

Inovasi Business Model Industri Real Estate Di Masa Depan

Di masa depan, Business Model real estate akan dipengaruhi beberapa faktor kunci, seperti gelombang urbanisasi, perilaku generasi milenial, disrupsi teknologi digitalisasi, serta kondisi VUCA yang dipicu pandemi Covid-19. Generasi milenial adalah generasi dengan rentang usia 24 – 35 tahun, dan jumlahnya diperkirakan akan mencapai 35 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 90 juta jiwa. Ciri-ciri generasi milenial antara lain menyukai kebebasan, fleksibilitas, terkoneksi, suka serba cepat atau instant dan digital savvy.

Pandemik Covid-19 telah memberikan dampak ekonomi, sosial dan budaya yang luar biasa terhadap kehidupan masyarakat di dunia dan Indonesia. Dampak tersebut berakibat perubahan kebiasaan seperti timbulnya low touch economy, healthy freak life style, back to nature.

Berdasarkan uraian di atas, Business Model real estate di masa depan atau Real Estate 4.0 diperkirakan akan diwarnai oleh :

Transaksi online (e-transaction)

Saat ini, beberapa transaksi sudah dilakukan secara online, namun masih
terbatas, karena isu legal dan keamanan cyber security. Dimasa depan transaksi online akan semakin meningkat dengan penggunaan teknologi blockchain yang mampu meningkatkan kecepatan dan keamanan transaksi data dan keuangan.

Konvergensi dan interkoneksi digital, dalam bentuk smarthome; penggunaan IOT. seperti sensor dan kontrol fungsi dan kegiatan rumah, dan terhubung dengan jaringan smartcity, khususnya transportasi dan fasilitas kesehatan.

Konsep hunian dengan co-working space dan office hub sebagai fasilitas
lingkungan.

Pengalaman work from home (WFH) dimasa pandemik menunjukkan tingkat produktifitas kerja yang lebih baik dengan pengaturan waktu kerja yang lebih fleksibel. Karena itu, trend WFH sepertinya akan menjadi kebiasaan baru yang akan dipertahankan. Untuk di pusat kota, konsep smart SOHO akan menjadi pilihan value proposition bagi kaum milenial.

Peran digital marketing yang semakin dominan, konsep O2O yang menggabungkan pengalaman online dengan offline. Penggunaan AR/VR akan memperkaya pengalaman konsumen sebagai bagian dari experiential merketing.

Experiential marketing menjadi penting karena pembeli milenial akan menjadi endorser yang baik, mereka tidak sabar untuk mempost foto rumah yang mereka beli, dan menceritakan pengalaman mereka di akun sosial media mereka. ●(Dr. Joni Phangestu, MM.Akademisi PPM School of Management. CEO Grow Consulting)

Sumber : Property and the city

0 Komentar